Jumat, 08 Juni 2012

TEORI PSIKOANALITIK


SIGMUND FREUD (1856-1939)

A.    Konsep Freud tentang Alam Tidak Sadar

Teori-teori yang dikemukakan oleh Freud ini berfokus pada masalah alam tak sadar, sebagai salah satu aspek kepribadian seseorang. Menurut pendapatnya, dorongan-dorongan, komponen-komponen kepribadian, ingatan akan pengalaman masa kanak-kanak dini dan konflik-konflik psikologis yang mengerikan cenderung tidak disadari. Dalam formulasi Freud, “dorongan seksual” memainkan peranan penting secara khusus. Istilah “seksual” digunakan untuk segala tindakan dan pikiran yang memberi kenikmatan atau kepuasan. Sedangkan istilah “dorongan” sebagaimana psikolog sekarang menggunakan istilah dorongan dasariah (basic drivers). Dorongan seksual menurut Freud melahirkan sejumlah “energi psikis” yang disebut “libido” untuk perilaku dan aktivitas jiwa. Energi psikis itu sejajar dengan energi fisik. Bila dorongan seksual dipuaskan maka energi psikis membentuk kekuatan yang menekan seperti air didalam selang yang ujungnya tersumbat. Konflik-konflik yang timbul akan meningkatkan ketegangan. Bila orang ingin berfungsi secara normal maka ketegangan itu harus dihilangkan atau dikurangi. Bila tekanan itu tidak bisa dikurangi maka pipa akan meletus pada saat yang paling lemah dan orang akan memperlihatkan perilaku abnormal.
Teori kepribadian Freud dapat diikhtisarkan dalam rangka struktur, dinamika dan perkembangan kepribadian.

1. Struktur Kepribadian.
Menurut Freud, kepribadian manusia berisi 3 sistem atau aspek, yaitu :
1.  Das Es (the id), yaitu aspek biologis,
Das es atau aspek biologis daripada kepribadian ini adalah aspek yang orisinil. Dari aspek inilah 2 aspek lainnya berasal. Das es berfungsi dengan berpegang kepada prinsip “kenikmatan” (lutzprinzip pleasure principle) yaitu keenakan dan menghindarkan diri dari ketidakenakan. Untuk hal ini, Das es mempunyai 2 cara :
  • Refleksi dan reaksi-reaksi otomatis, seperti bersin, berkedip dan sebagainya.
  • Proses primer, seperti kalau orang lapar lalu membayangkan makanan
Akan tetapi jelas kiranya bahwa cara “ada” yg demikian tidak mungkin dipertahankan, orang yang lapar tidak mungkin kenyang hanya dengan membayangkan makan. Karena itulah dibutuhkan aspek lain yang menghubungkan pribadi dengan dunia obyektif. Aspek ini ialah Das Ich.
2.  Das Ich (the ego), yaitu aspek psikologis
Das ich atau aspek psikologis dari kepribadian ini timbul dari kebutuhan organisme untuk dapat berhubungan dengan dunia luar secara realistis. Didalam berfungsinya Das ich itu berpegang pada prinsip “realitas” (realitatsprinzip reality principle). Tujuannya masih dalam garis kepentingan organisme yaitu mendapatkan keenakan dan menghindarkan diri dari ketidakenakan, tetapi dalam bentuk dan cara yang sesuai dengan kondisi-kondisi dunia riil, baik kenyataan benda-benda maupun kenyataan nilai-nilai sosial.
3.     Das Ueber (the ego), yaitu aspek sosiologis.
Das ueber ich atau aspek sosiologis dari kepribadian ini merupakan wakil nilai-nilai tradisionil serta cita-cita masyarakat sebagaimana ditafsirkan orangtua kepada anak-anaknya yang diajarkan dengan berbagai perintah dan larangan. Das ueber ich lebih merupakan hal yang ideal daripada hal yang riil, lebih merupakan kesempurnaan daripada kesenangan. Karena itu das ueber ich dapat pula dianggap sebagai aspek moral daripada kepribadian. Fungsinya yang utama ialah menentukan apakah sesuatu susila atau tidak susila, pantas atau tidak pantas, benar atau salah dan berpedoman ini pribadi dapat bertindak  dalam cara yang sesuai dengan moral masyarakat. Das ueber ich dapat kita lihat dalam hubungan dengan ketiga apek dari kepribadian itu, yaitu :
·         Merintangi impuls-impuls Das es, terutama  impuls-impuls seksual dan agresif yang pernyataannya sangat ditentang oleh masyarakat
·         Mendorong Das ich untuk lebih mengejar hal-hal yang moralitas daripada yang realistis
·         Mengejar kesempurnaan

2.  Dinamika Kepribadian
Apakah yang membawa dinamika didalam keabadian itu? Freud beranggapan bahwa dinamika kepribadian ini dimungkinkan oleh adanya energi yang ada didalam kepribadian itu. Energi ini yang dinamakannya energi psikis, berasal dari energi psikologis yang bersumber pada makanan. Energi psikis ini disimpan didalam insting-insting.
Menurut Freud didalam diri kita ada 2 kelompok insting-insting, yaitu :
(1) Insting-insting hidup
(2) Insting-insting mati
Insting-insting hidup
Fungsi insting-insting hidup ialah melayani maksud individu untuk tetap hidup dan memperpanjang ras. Bentuk-bentuk utama daripada insting-insting hidup ini ialah insting-insting makan, minum, seksual. Bentuk energi psikis yang dipakai insting=insting hidup ini disebut “libido”
Insting-insting mati
Insting-insting mati ini yang disebut juga insting-insting merusak.
Berfungsinya kurang kjelas dibandingkan insting-insting hidup karena itu juga kurang dikenal. Namun kenyataan yang tidak dapat dipungkiri bahwa manusia pada akhirnya mati juga. Inilah yang menyebabkan Freud  merumuskan, bahwa “Tujuan semua hidup adalah mati”.
Dinamika kepribadian terdiri dari cara bagaimana energi psikis itu dipergunakan oleh Das es, das ich dan Das ueber ich. Oleh karena banyaknya energi itu terbatas maka akan terjadi semacam persaingan diantara ketiganya dalam hal mengunakan energi psikis itu. Menjadi kuatnya salah satu aspek akan melemahkan aspek lainnya.
Mana diantara ketiga aspek itu yang paling banyak mempergunakan energi psikis itu juga berpengaruh terhadap bentuk tingkah laku yang dilakukan oleh orang.
(a)  Apabila Das es menguasai sebagian besar energi psikis itu maka tindakan-tindakannya itu akan bersifat primitif, impulsive, agresif. Dia akan mengumbar dorongan-dorongan primitifnya.
(b)  Apabila das ich yang menguasai sebagian besar energi psikis itu, maka pribadi akan bertindak dengan cara-cara yang realistis dan rasional logis.
(c)  Apabila yang menguasai sebagian besar energi psikis adalah Das ueber ich maka orang akan mengejar hal-hal yang sempurna yang kadang-kadang kurang rasional.

3.   Perkembangan Kepribadian
Secara sederhana dapat dikatakan, bahwa perkembangan kepribadian adalah belajar mempergunakan cara-cara baru dalam mereduksikan tegangan yang timbul karena individu menghadapi berbagai hal yang dapat menjadi sumber tegangan (tension). Adapun sumber tegangan yang pokok ialah :
·         Proses pertumbuhan fisiologis
·         Frustasi
·         Konflik dan
·         Ancaman.
Karena orang menghadapi salah satu atau lebih daripada sumber tegangan itu maka timbullah rasa tidak aman didalam dirinya, jadi timbul tegangan. Individu tidak akan tinggal diam, dia akan berusaha mendapatkan cara-cara tertentu untuk mengurangi atau menghilkangkan rasa tak aman itu. Apabila berhasil berarti dia telah belajar atau berkembang.
Adapun cara yang paling pokok yang digunakan individu untuk mereduksi tegangan itu ialah dengan identifikasi dan pemindahan obyek (object displacement).

B.    Tahap-tahap Perkembangan Kepribadian (seksual) Freud

Freud yakin bahwa perkembangan kepribadian seorang anak dibentuk dari pengalaman-pengalaman ketika anak menjalani seperangkat urutan perkembangan psikoseksual.  Istilah ini dipergunakan karena libido (energi seksual) dipusatkan pada daerah-daerah tubuh yang berbeda ketika berlangsungnya perkembangan psikologis. Tiga daerah yaitu mulut, dubur, dan alat kelamin yang dikenal sebagai daerah kenikmatan seksual.
Freud menguraikan adanya 5 tahap perkembangan psikoseksual :

1.    Tahap Oral (0 - 1 tahun)
Menurut Freud, pada tahun pertama kehidupan, anak-anak memperoleh kepuasan-kepuasan melalui mulutnya yaitu dari makan, menghisap, menggigit dan kegiatan mulut lainnya. Dengan kata lain, libido terpusat pada kenikmatan mulut. Penyapihan merupakan konflik utama pada tahap oral ini. Semakin berat anak ini meninggalkan puting susu ibunya  atau botol susunya dan kemikmatan yang diperolehnya maka semakin banyak libido terpusat disini. Bila jumlah libido yang terpusat disini cukup besar maka pada masa dewasa ia akan memperlihatkan pola perilaku oral (seperti ketergantungan, pasif dan rakus) dan sangat dikuasai bagian oral (makan, mengunyah, merokok dan kemampuan bicara yang sangat berlebihan).

2.    Tahap Anal (1 - 2 tahun)
Selama tahun kedua kehidupan anak, kenikmatan terutama diperoleh melalui anal/dubur yang mula-mula berasal dari buang air besar kemudian dari penahanan kotoran. Untuk memperoleh kenikmatan, pertentangan dengan masyarakat mulai menghambatnya. Akibatnya, anak-anak akan diminta untuk mengendalikan dorongan alamiahnya. Latihan buang air besar menimbulkan konflik pada tahap anal ini. Bila latihan buang hajat ini terlalu keras atau terlalu dimanjakan maka libido dalam jumlah tertentu akan tertumpuk pada tahap ini. Kelak pada masa dewasa. Ia akan menggunakan teknik tersebut   untuk mengatasi berbagai persoalan yang mengecewakan, misalnya dengan membuat kotor atau menyerang dengan penuh permusuhan, keras kepala, mudah tersinggung dan bersikap aneh.

3.    Tahap Phalik (3 - 5 tahun)
Pada usia 3 – 5 tahun, menurut Freud, anak-anak menyadari bahwa ia dapat memperoleh kenikmatan melalui daerah kelaminnya. Psikologi modern juga setuju dengan pendapat ini. Menurut Freud, khayalan yang terjadi ketika anak itu masturbasi akan menentukan krisis yang universal. Anak laki-laki mencintai ibunya dan ingin memilikinya. Ia memandang bapak sebagai saingan untuk memperoleh ibunya. Sebaliknya, proses yang sama juga terjadi antara anak putri dengan bapaknya. Bagi anak perempuan, gejala ini disebut Kompleks Elektra, sedangkan pada pria konflik itu disebut Kompleks Oedipus. Nama-nama itu diambil dari tokoh-tokoh legendaries Yunani yang mengalami konflik seperti diatas tadi.

4.    Tahap Latensi (6 – 7 tahun)
Ketika tahap phalik sudah teratasi yaitu pada akhir usia 5 tahun, Freud yakin bahwa kepribadian orang telah terbentuk secara tetap. Untuk 7 tahun selanjutnya masalah seksual ini menjadi kurang diperhatikan. Tidak tampak adanya pertentangan atau perubahan kepribadian.

5.    Tahap Genital (remaja keatas)
Menurut Freud, dengan masuknya anak ini kedalam usia remaja, minat seksual tampak seperti bangun kembali. Tahap genital ini (yang dimulai sejak remaja, terus kemasa dewasa sampai pikun), orang akan memperhatikan orang lain ketika mereka bekerjasama dalam lingkup budayanya. Sampai tahap phalik, orang terlalu terpusat pada tubuhnya sendiri dan kebutuhan mendadak. Sekarang, orang harus membentuk hubungan secara seksual memuaskan. Freud yakin bahwa ikatan heteroseksual yang matang adalah tanda dari kemasakan. Bila energi terlalu ketat akibat adanya kepuasan yang berlebihan atau kepuasan yang sangat mengecewakan pada tahap perkembangan sebelumnya maka para remaja tidak mungkin dapat memenuhi tuntutan ini.
   
ERIK ERIKSON (1902 – 1994)
Teori yang dikembangkan oleh Erikson mengarah pada perkembangan pribadi dan social melalui analisa konsep pribadi. Erikson membagi teorinya menjadi tiga bagian utama ;
a.     Teori tentang perkembangan pribadi dan social
b.     Teori tentang tahap-tahap perkembangan
c.     Teori tentang perkembangan selanjutnya di masa yang akan datang

A.    Teori tentang Perkembangan Pribadi dan Sosial
Dalam perkembangan anak, Erikson menekankan pentingnya tahun-tahun pertama kehidupan anak sebagai tahun pembentukan dasar-dasar kepribadiannya di kemudian hari. Kehidpan emosi dan kualitas hubungan perorangan menjadi landasan yang penting untuk member bentuk pada kehidupan yang selanjutnya. Terjadinya proses kematangan berhubungan dengan waktu-waktu yang ada paa setiap tahap perkembangan, karena disini terdapat masa-masa kritis. Teori Erikson didasarkan pada 5 hal penting yaitu ;
v  Manusia pada umumnya mempunyai kebutuhan pokok yang sama.
v  Perkembangan ego atau pribadi
v  Perkembangan muncul secara bertahap
v  Pada setiap tahap ditandai dengan tantangan psikologis atau kritis
v  Setiap tahap menggambarkan perbedaan motivasi setiap individu.
B.    Teori tentang Tahap-tahap Perkembangan  Erikson :
1.   Trust vs Mist trust  (0-1) tahun
2.   Autonomy vs Shame and Doubt  (1-2) tahun
3.   Inisiative vs Guilt (2-6) tahun
4.   Industry vs Inferiority (6-12) tahun
5.   Identity vs Role Confution (12-18) tahun
6.   Intimacy vs Isolation (19-40) tahun
7.   Generativity vs Stagnation (40-65) tahun
8.   Integrity vs Despair important (usia >65) tahun

Trust vs Mist trust  (0-1) tahun
Selama tahun pertama (tahap oral Freud), kanak-kanak mengalami konflik antara percaya dan tidak percaya. Pada saat itu, hubungan bayi dengan ibu menjadi sangat penting. Jikalau ibu memberikan makan bayi, membuatnya hangat, memeluk dan berbicara dengannya, maka bayi akan memperoleh kesan bahwa lingkungannya dapat menerima dirinya secara hangat dan bersahabat (inilah landasan pertama bagi rasa percaya). Kalau ibunya tidak dapat memenuhi kebutuhan bayi maka dalam diri bayi akan timbul rasa ketidakpercayaan terhadap lingkungannya.

Autonomy vs Shame and Doubt  (1-2) tahun
Sejajar dengan tahap anal Freud, selama tahun kedua, anak-anak akan menghadapi tantangan kedua yaitu Otonomi melawan ragu dan malu. Pada usia ini, kemampuan anak akan berkembang menjadi sangat cepat. Mereka senang berlari, mendorong, menarik, memegang agar dapat berdiri diatas kedua kakinya sendiri sambil melatih kemampuan-kemampuan anak, maka anak mampu mengembangkan pengendalian terhadap otot, dorongan, lingkungan dan diri sendiri (otonomi). Sebaliknya, bila orangtua cenderung menuntut terlalu banyak dan terlalu cepat atau mencegah anak kecil menyelidiki lingkungannya maka si anak mengalami rasa malu dan keraguan.

Inisiative vs Guilt (2-6) tahun
Anak usia 3-5 tahun sangatlah aktif. Mereka suka berlari, berkelahi, dan
suka memanjat. Mereka suka sekali bila harus menyerang persoalan atau menantang lingkungannya. Dengan menggunakan bahasa, fantasi dan permainan khayalan, dia mendapatkan rasa harga diri. Pada usia ini, anak biasanya juga menghadapi konflik antara inisiatif dan rasa bersalah (sejajar tahap phalik Freud). Bila orangtua berusaha untuk mengerti anak, menjawab pertanyaan anak, dan menerima keaktifan dalam bermain maka anak ini akan belajar untuk mendekati apa yang diinginkan dan perasaan inisiatif menjadi kuat. Bila orangtua kurang mengerti, kurang sabar dan suka menghukum dan berpendapat bahwa pengajuan pertanyaan, bermain dan kegiatan lain adalah tidak berguna maka si anak akan merasa bersalah dan tidak menentu dan akan menjadi enggan untuk mengambil inisiatif mendekati apa yang diinginkan

Industry vs Inferiority (6-12) tahun
Pada usia 6-11 tahun, anak memasuki dunia yang baru, yaitu sekolah dengan segala aturan dan tujuan, keterbatasan, kegagalan, dan kebehasilan. Di sekolah anak belajar bahwa dirinya dapat mengerjakan sesuatu dan harus menghadapi konflik antara kerajinan dan rasa rendah diri. Bila seorang anak merasa bahwa dia tidak mampu dan tidak terampil dan mahir seperti teman sebayanya, maka akan terbentuk perasaan rendah diri. Anak yang sukses biasanya mempunyai keyakinan diri dan menikmati dalam melakukan keterampilan-keterampilan.

Identity vs Role Confution (12-18) tahun
Selama masa remaja (yang menurut Freud awal tahap genital) muncullah
krisis identitas. Bila krisis ini tidak dapat diatasi, anak akan mengalami kebingungan peran. Anak-anak remaja dituntut untuk membentuk bayangan diri yang beraneka ragam, yaitu sebagai pemuda, sahabat, pelajar, pemimpin, pengikut, pekerja, wanita dan pria dan kesemuanya ini harus disatukan, ditambah lagi harus memilih karir dan gaya hidup pada masa depan. Bila remaja sudah memperoleh pemuasan kebutuhan kepercayaan, otonomi, inisiatif, dan keterampilan, ia akan mengembangkan identitas diri dengan lebih baik. Tetapi bila krisis-krisis sebelumnya menumpuk dan tidak teratasi maka remaja akan berkembang dengan keraguan tentang siapa dirinya dan untuk apa semuanya ini? Erikson amat yakin bahwa persoalan-persoalan remaja sebagian besar menyangkut masalah identitas diri.

Intimacy vs Isolation (19-40) tahun
Setelah seseorang melewati masa remaja, dia akan memasuki tahap awal masa dewasa. Pada masa ini akan menghadapi krisis yaitu konflik antara keintiman dan isolasi. Orang dewasa muda sudah mulai memperlihatkan perilaku soaial yang menonjol. Misalnya ingin merawat orang lain dan memperhatikannya, percaya pada orang lain, atau memiliki sesuatu secara bersama-sama. Pada pandangan Erikson, keintiman biasanya menuntut perkembangan seksual yg mengarah pada perkembangan hubungan seksual dengan lawan jenis yang ia cintai, yang dipandang sebagai teman berbagi suka dan duka. Sebaliknya, orang yang kurang berhasil memperkembangkan identitas dirinya, akan sulit sekali baginya membentuk hubungan yang erat dengan orang lain, apalagi dengan lawan jenisnya. Seringkali kemudian menjauhkan diri dan membentuk ikatan yang amat terbatas yang kurang murni dan spontan.  

Generativity vs Stagnation (40-65) tahun
Krisis pada tahap dewasa pertengahan ini adalah generativitas melawan stagnasi. Istilah “generativitas” oleh Erikson mengacu pada keterikatan seseorang dengan masa depannya dan terhadap generasi berikutnya. Erikson yakin bila orang dewasa mulai memperhatikan generasi mudanya, kesehatan dan kesejahteraannya, maka hal ini akan memperlihatkan adanya kekayaan diri sendiri. Kegagalan pada fase ini berarti individu akan mengalami stagnasi pada kehidupan berikutnya dan krisis terhadap diri sendiri.

Integrity vs Despair important (usia >65) tahun
Akhirnya ketika hidup mendekati akhirnya, orang usia lanjut juga menghadapi krisis terakhir, integritas lawan putus asa. Menurut Erikson, integritas ini akan terjadi ketika ia menoleh kebelakang hidupnya selama ini, merasa aman dan tentram dan menerima jalan hidupnya itu sebagai sesuatu yang berharga dan layak. Sedangkan rasa putus asa akan menghantui orangtua yang merasa bahwa hidupnya selama ini sama sekali tidak bermakna ataupun memberikan kepuasan pada dirinya dan melihat hidupnya sebagai sesuatu yang pecuma. Waktu seolah-olah berjalan dengan cepat sekali dan dia mengalami ketakutan karena semakin mendekati saat kematian.






REFERENSI


Bahri, Syamsul. 2005. Psikologi Perkembangan. Makassar : State of University of Makassar Press

Davidoff, Linda. 1991. Psikologi Suatu Pengantar. Alihbahasa Mari Juniati, Jilid 1 dan 2, Jakarta; Erlangga.

Miller. Patricia. 1993. Theories of Developmental Psychology. USA : W.H.Freeman and Company

Patmonodewo, Soemiarti, 2003. Pendidikan Anak Prasekolah, Jakarta; Rineka Cipta kerjasama Depdikbud

Suryabrata, Sumadi, 2005. Psikologi Pendidikan, Jakarta; Raja Grafindo Persada

Santrock. John. 1997. Life Span Development. University of Texas-Dallas : Brown &        

Benchmark

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar